Bank Mega
 
Home
Contact Us
English Version
 
I
I
I
I
I
I

 

 Media
 

 

 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 

Berita Perusahaan

Didukung Kredit dan Komposisi DPK : Laba Bank Mega Tertinggi
(Media Indonesia, 20/11/07)

Mengakhiri triwulan III 2007, PT. Bank Mega Tbk. mencatatkan pertumbuhan laba sebelum pajak sebesar 294,2 % atau tertinggi di antara bank-bank nasional lain di Tanah Air.

Pesatnya pertumbuhan laba tersebut disokong peningkatan kredit dan perbaikan komposisi dana pihak ketiga (DPK).

Dirut Bank Mega Yungky Setiawan menjelaskan laba sebelum pajak yang berhasil diraup Bank Mega pada akhir triwulan III telah mencapai Rp. 579,4 miliar, atau naik 294,2 % jika dibandingkan dengan laba sebelum pajak pada periode serupa tahun 2006 yang sebesar 147 miliar. Sedangkan setelah dipotong pajak, laba bersih Bank Mega adalah Rp. 409 miliar.

"Pertumbuhan laba sebelum pajak yang hampir mencapai tiga kali lipat per September ini merupakan pertumbuhan tertinggi di antara perbankan nasional lain," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Salah satu faktor pendorong pertumbuhan laba, sambung Yungky, adalah peningkatan volume kredit (di luar Mega Oto Joint Financing/MOJF) Bank Mega sebesar 93,5 % (year on year) dari Rp. 4,63 triliun menjadi Rp. 9 triliun.

Kenaikan kredit korporasi dari Rp. 3,12 triliun menjadi Rp. 5,63 triliun tercatat paling menonjol di antara dua segmen lainnya, konsumer dan komersial.

"Dengan posisi kredit saat ini memang agak berat untuk mencapai target kredit Rp. 17,5 triliun akhir tahun. Tapi walaupun terkoreksi, mungkin tidak besar," ujar Direktur Keuangan Daniel Budirahaju.

Ia juga mengemukakan terdapat lini kredit sebesar kurang lebih Rp. 9 triliun per September 2007 yang tersebar di sektor infrastruktur jalan tol, perkebunan, dan perdagangan. Hingga akhir tahun ini, ia memperkirakan realisasi dari jumlah tersebut hanya akan mencapai sepertiganya.

Dari sisi dana pihak ketiga (DPK), porsi dana mahal (deposito) yang semula mendominasi di atas 70 %, kini turun menjadi 56,6 % dari total DPK sejumlah Rp. 26,5 triliun. Otomatis, porsi dana murah (tabungan dan giro) melonjak menjadi 43,5 % dari semula 24,8 %. Baik pertumbuhan giro maupun tabungan Bank Mega diklaim sebagai yang terbaik di industri perbankan dengan masing-masing sebesar 101,9 % dan 101,1 %.

"Sampai akhir tahun, DPK kami harapkan masih terus bertambah mencapai Rp. 28,5 triliun dengan komposisi 50-50 antara dana murah dan dana mahal," lanjut Yungky.

Untuk meningkatkan penyaluran kredit, khususnya kredit konsumer langsung dan penghimpunan DPK, Bank Mega yang kini memiliki 154 kantor cabang menargetkan memiliki 188 kantor cabang pada akhir 2007 dan 250 kantor cabang pada akhir 2008. "Setiap pembukaan kantor cabang ini, kami memerlukan anggaran sekitar Rp. 3 miliar - Rp. 5 miliar," kata Yungky.

Sementara itu, rasio keuangan bank yang dimiliki Para Group ini mencatatkan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 12,56%, NPL 1,26%, LDR 47,68%, BOPO 78,48%, ROA 2,44% dan ROE 27,24%, serta NIM 5,02%.

Disinggung mengenai rencana penerbitan obligasi subordinasi senilai Rp. 1 triliun, Yungky menjelaskan pihaknya masih menanti surat persetujuan dari otoritas pasar modal. Ia mengharapkan proses tersebut tuntas pada Desember 2007. Jika obligasi tersebut dapat terserap seluruhnya, di pasar, posisi modal Bank Mega pada akhir tahun akan mencapai Rp. 3 triliun. (Sha/E-3)

 

 




Login Mega Internet Banking Registrasi Mega Internet Banking

 

 
I
I
I
 
MegaCall